Setetes Embun Pada Secangkir Kopi
Membingkai laksa pada keheningan
Terajut mimpi dalam setiap tetesnya
Gugur bersama zat
yang berbeda
Paradikma yang terkikis dokma
Perlahan menjerumuskanku
Dalam perbincangan ahli fitnah
Desas-desus yang tak jelas muaranya
Menjadi bahan pertikaian
Bahkan tak jarang
Membincang hiruk-pikuk duniawi
Ada yang ku sesalkan dari luka yang menganga
Dan air mata yang tumpah
Sebab derita tak pernah tergambakan
-pada dinding –dinding langit
Harkat dan martabat bagai tetes embun pada samudra
Sirna sebelum tergulung ombak
Kering sebelum mentari menyapa
Sepekat hitamnya kopi menemani obrolan
Hingga setetes embun pada sebilah
-hatiku yang kering
Menafsirkanku tentang pahitnya penderitaan
Bahwa keheningan hatimu
Tetap ku harapkan saat jiwaku tertutup kabut
F
Malang 10/12/12





0 komentar:
Posting Komentar