Kosmologika
Kembali angin meriuh hujan
Langit terbelah menyebar petaka
Air mata laksana mutiara di dasar lautan
Terus menghujam pada setiap tetesannya
Desas-desus mencekam membabi buta
Menghantam kehormatan dan martabat
Bukan sosok ataupun nasab
Namun otak yang mengalir
Bagai tetesan telaga
Begitu elastis memasuku setiap ruang
Kemana tapak ini harus melangkah
Sementara perdebatan
tumbuh dimana-mana
Ajaran tak lagi di pedulikan
Dan hati ini terus berkabut
Dinding-dinding kenistaan
Berdiri tegak menjulang langit
Membahasakan kemunafikan dan keangkuhan
Langkah kakiku terhenti
Pada tiga babak sebelum sandiwara usai
Ò Malang 12/12/12





0 komentar:
Posting Komentar